| KEJUTAN DARI SISI |
|
|
|
| Ditulis Oleh JEANETTE KARINA | ||||||
| Selasa, 18 September 2001 | ||||||
|
Di sebuah kota, hiduplah keluarga kaya raya. Mereka hanya memiliki seorang anak. Nama anak itu Sisi. Sisi adalah gadis yang periang dan juga lincah. Tetapi Sisi terlalu sering dimanja, sehingga sifatnya agak serakah dan curang. Kadang-kadang ia memamerkan kekayaannya yang melimpah kepada teman-temannya yang miskin. Ia pernah memamerkan kalung oleh-oleh dari pamannya kepada Sari, temannya yang hidup sederhana. Sari sampai amat takjub. Tetapi sebenarnya perbuatan itu tidaklah baik.
Di sekolah, Sisi tidak banyak mempunyai teman. Seperti Vena, Sasa, dan Dian saja yang mau berteman dan membela Sisi. Mereka mau berteman dengan Sisi karena ada sebabnya, yaitu agar mereka dapat makan gratis di kantin sekolah. Uang saku Sisi memanglah banyak, tapi ia sering menghambur-hamburkannya begitu saja. Orang tua Sisi sampai amat menyesal karena telah terlalu memanjakan Sisi. Sisi selalu saja mentraktir teman-temannya di tempat yang mewah, seperti mall, restoran terkenal, dan tempat mewah lainnya. Suatu hari, Sisi dinasehati oleh orang tuanya karena terlalu berlebihan. Ia ingin sekali membeli sebuah mainan baru yang harganya sangatlah mahal. Jelas orang tuanya melarang karena mainan Sisi sudah banyak sekali. Kata ayahnya, "Untuk apa lagi mainan itu? Bukankah minggu lalu kamu baru saja membeli mainan yang harganya membuat kantung ayah dan ibu hampir kosong! Kamu kira mencari uang itu mudah! Pokoknya ayah tidak mengijinkan!". " Kamu harus sadar, Si! Kamu itu terlalu sombong! Lihat temanmu, Sari misalnya! Ia jarang menuntut sesuatu kepada ayah atau ibunya jika tidak penting!" tambah ibunya. Sisi terdiam. Ia tak berani membantah kata-kata ayah maupun ibunya. Ia berlari ke taman. Kebetulan lewatlah Sasa. Sisi menceritakan semuanya. " Begitulah, Sa! Kukira mereka akan mengijinkanku! Tetapi tak kusangka mereka malah memarahiku! Orang tuaku bukan yang dulu lagi!" ujar Sisi setelah menceritakan semuanya. "Si, orang tuamu tidaklah salah! Memang selama ini kamu tak sadar! Tapi teman-teman di sekelilingmu merasakannya! Itu sebabnya mereka tidak mau berteman denganmu lagi!" tutur Sasa. Setelah itu Sasa pergi. Keesokan paginya, Sisi pergi ke sekolah dengan hati yang sedih. Mukanya masam karena kemarin dimarahi oleh orang tuanya. "Selamat pagi, Si! Mengapa kau kelihatan sedih?" sapa Dian. "Tidak!" hanya itu yang dijawab oleh Sisi. Ketika waktu istirahat tiba, Sisi tidak muncul. Itu merupakan suatu kesempatan teman-temannya untuk berdiskusi. " Besok itu hari ulang tahun Sisi, ya?" tanya Sari. "Betul! Kita harus membuat kejutan untukknya! Tapi jangan di sekolah, tapi di rumahnya!" tambah Vena. "Jadi kita undang semua teman lalu bersama-sama datang ke rumah Sisi?" tebak Sasa. "Tepat!" jawab Vena. Tidak seperti biasanya, sore ini Sisi mengurung dirinya di kamar sejak pulang sekolah. Ia hanya keluar bila ingin sesuatu. "Besok hari ulang tahunku! Jika aku minta sesuatu pada ayah atau ibu pasti tidak diijinkan! Atau aku harus memperbaiki diriku?" ujar Sisi dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk merubah semua kelakuannya. Yang ia lakukan pertama-tama adalah merapikan temapat tidur dan seluruh kamarnya yang selalu nampak acak-acakan. Setelah dibersihkan, ia merasakan betapa nyamannya tidur di tempat yang rapi dan bersih. Lalu ia menyemir sepatu ayah dan ibu. Kemudian ia pergi ke kamarnya sebentar untuk melihat jam. Waktu menunjukan pukul 17.05. Sisi memutuskan untuk menyiram tanaman. Ibunya yang kebetulan tidak bekerja amat heran melihat anaknya itu. Ketika ayahnya pulang, Sisi membawakan tasnya lalu membuatkan minuman. "Sisi kamu tidak apa-apa? Dari tadi kamu kerja terus ada apa sih?" tanya ibunya. "Sisi sudah memutuskan bahwa mulai hari ini Sisi akan berubah, seperti apa yang dikehendaki ayah dan ibu!" kata Sisi dengan rasa puas. "Si, sebagai rasa terima kasih ayah karena tadi sudah dibawakan tasnya dan dibuatkan minuman, Sisi mau merayakan ulang tahun dimana?" tanya ayah. Sisi terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. " Karena kamu mau mengubah semua kelakuanmu, mau tidak dirayakan di panti asuhan?" tawar ibu. "Panti asuhan? Boleh juga! Tapi Sisi boleh ajak teman-teman tidak?" jawab Sisi. "Pasti! Ajak saja, mereka pasti senang!" ujar ibu. Keesokkannya, Sisi bangun pagi-pagi sekali. "Hari ini pasti aku tidak terlambat!" kata Sisi. Ketika waktu istirahat di sekolah, Sisi tidak melihat seorang pun temannya di kantin. Ia berjalan ke kelas. Rupanya mereka sedang berdiskusi. Ia segera masuk. Teman-temannya terkejut. Sisi berdiri di depan kelas, lalu ia berbicara, "Teman-teman, maafkan semua perbuatanku selama ini, ya! Aku ini telah sombong, suka curang, dan mau menang sendiri! Sebagai permohonan maafku dan kebetulan hari ini hari ulang tahunku! Aku harap kalian mau merayakan ulang tahunku di panti asuhan!" ujar Sisi. Dian, Sasa, dan Vena amat terkejut. "Jadi Sisi kita yang dulu sudah berubah, nih!" goda Sasa. Sorenya, Sisi dan teman-temannya berada di panti asuhan. Mereka bermain bersama-sama. Tertawa, bernyanyi, dan menari bersama. Tibalah acara terakhir, yaitu membagikan bingkisan. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan amat bahagia. Mereka tiada habis-habisnya mengucapkan terima kasih. Sisi yang dulu telah dibuang jauh-jauh. Kini hanya ada Sisi yang sopan, tidak pamer, suka menolong, dan rajin bekerja. Ayah dan ibunya saja sampai heran dengan tingkah laku Sisi yang berubah itu, bagaimana teman-temannya? BEKASI, SEPTEMBER 2001 KEMBALI KE MENU KIRIMAN JEANETTE KARINA JATIBENING ESTATE BLOK A6 NO. 10, PONDOK GEDE, BEKASI 17412 SEKOLAH : SMP ST THERESIA, KELAS 1 JAKARTA Jadikan sebagai favorit anda (117) | Cuplik artikel ini | Views: 1099
Beri Komentar
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|





